PENGARUH
PENAMBAHAN EKSTRAK BEKATUL TERHADAP KANDUNGAN LAKTOSA DAN ZAT BESI (Fe) PADA
YOGHURT SUSU KEDELAI DENGAN INOKULASI BAKTERI Streptococcus thermophilus
Makalah
ini disusun guna memenuhi tugas Seminar
Biologi
Oleh:
DANANG DWI
AGUSTIN
NPM:
08320343
IKIP
PGRI SEMARANG
FAKULTAS PENDIDIKAN
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
2011
A. Judul
skripsi
PENGARUH PENAMBAHAN
EKSTRAK BEKATUL TERHADAP KANDUNGAN LAKTOSA DAN ZAT BESI (Fe) PADA YOGHURT SUSU
KEDELAI DENGAN INOKULASI BAKTERI Streptococcus thermophilus
Danang
Dwi A (08320343)
B. Abstrak
Penelitian ini didasari
karena rendahnya Laktosa dan adanya Zat Besi yang terdapat dalam yoghurt susu
kedelai. Penelitian dilakukan dengan membandingkan kandungan Laktosa dan Zat
Besi yang terdapat dalam yoghurt susu kedelai sebelum ditambahkan dengan
ekstrak bekatul dengan setelah ditambahkan ekstrak bekatul.Penelitian ini
bertujuan mengetahui pengaruh penambahan ekstrak bekatul terhadap kandungan
Zat besi dan Laktosa pada yoghurt susu kedelai dengan inokulasi
bakteri Streptococcus
thermophilus
Penelitian dilaksanakan
di Laboratorium IKIP PGRI Semarang dan analisis hasil penelitian di
Laboratorium Pangan dan Gizi UNIKA, yang dimulai pada 1 Desember 2011 sampai
dengan 1 Januari 2012. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap
(RAL), dengan 6 perlakuan dan 2 pengulangan. Parameter yang diteliti adalah
Laktosa dan Zat Besi pada yoghurt susu kedelai setelah ditambahkan dengan ekstrak
bekatul.
Kata kunci : Ekstrak bekatul, kandungan Laktosa dan Zat Besi, Yogurth
susu kedelai, Streptococcus thermophilus
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Susu
kedelai merupakan salah satu jenis susu yang sudah banyak ditemukan di
lingkungan masyarakat. Susu ini dijadikan salah satu alternatif susu untuk
dikonsumsi, karena harganya lebih murah jika dibandingkan dengan susu sapi.
Selain harganya yang murah, susu kedelai juga mempunyai nilai gizi yang sangat
tinggi, terutama kandungan protein nabati.
Dari
segi harga yang ekonomis dan kandungan gizi yang cukup banyak pada susu kedelai
ditemukan suatu kendala yaitu, rasa susu kedelai yang sedikit langu jika diminum.
Karena rasanya itulah susu kedelai tidak menjadi minuman yang favorit bagi
masyarakat. Demi meningkatkan nilai ekonomis susu kedelai, tanpa mengurangi
kandungan gizi susu kedelai maka susu tersebut akan dibuat menjadi yoghurt atau
lebih dikenal dengan nama soyghurt.
Yoghurt
merupakan salah satu produk susu yang telah mengalami fermentasi. Biasanya
terbuat dari susu segar, baik itu susu sapi maupun susu kambing yang diberi
bakteri Lactobacillus bulgaricus atau
Streptococcus thermophilus. Cita rasa
asam yang khas pada yoghurt merupakan asam laktat yang dihasilkan oleh bakteri
tersebut. Agar susu menjadi lebih awet maka dibuatlah yoghurt untuk
mempertahankan kandungan gizi didalamnya. Namun ternyata dengan menambahkan
bakteri pada susu tersebut mampu meningkatkan kandungan gizi yang ada didalam
susu. Konsumsi yoghurt di kalangan masyarakat semakin lama mengalami
peningkatan karena manfaatnya untuk kesehatan. Yoghurt mengandung banyak jenis
bakteri yang menguntungkan (bakteri asam laktat) untuk membantu sistem
pencernaan makanan di dalam tubuh manusia. Bakteri asam laktat merupakan jenis
bakteri yang ramah lingkungan dan menguntungkan bagi manusia. Dengan demikian
dapat dipahami mengkonsumsi susu fermentasi secara teratur selain dapat
mencukupi kebutuhan gizi manusia juga dapat menjaga kesehatan pencernaan.
Pengembangan
susu kedelai menjadi soyghurt dimulai karena aroma khas susu kedelai yang
kurang begitu disukai oleh konsumen. Dibandingkan dengan yoghurt susu sapi,
yoghurt susu kedelai mempunyai beberapa keuntungan, yaitu lebih sedikit
memerlukan starter (Cahyadi, 2009).
Winarno
(1993) menyatakan, timbulnya rasa langu (beany
flavor) disebabkan oleh kerja enzim lipoksigenase yang terdapat dalam bijji
kedelai. Terjadinya bau langu muncul terutama waktu pengolahan, yaitu setelah
tercampurnya lipoksigenase dengan lemak kedelai.
B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang pemilihan masalah
penelitian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Apakah
ada pengaruh penambahan ekstrak bekatul terhadap kandungan laktosa dan zat besi
(Fe) pada yoghurt susu kedelai dengan inokulasi bakteri Streptococcus thermophilus?
2. Pada
dosis berapakah
inokulasi bakteri Stherptococcus thermophilus dan
ekstrak bekatul dapat memberikan pengaruh paling tinggi terhadap kandungan
laktosa dan zat besi (Fe) pada yoghurt susu kedelai?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian
ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui
pengaruh penambahan ekstrak bekatul terhadap kandungan laktosa dan zat besi
(Fe) pada yoghurt susu kedelai dengan inokulasi bakteri Streptococcus thermophilus.
2.
Mengetahui dosis
inokulasi bakteri Streptococcus thermophilus dan
ekstrak bekatul dapat memberikan pengaruh paling tinggi terhadap kandungan laktosa
dan zat besi (Fe) pada yoghurt susu kedelai.
D.
Manfaat
Penelitian
Penelitian
ini diharapkan dapat diperoleh manfaat sebagai berikut:
1. Menambah
informasi tentang pengaruh penambahan ekstrak bekatul terhadap kandungan
laktosa dan zat besi (Fe) pada yoghurt susu kedelai dengan inokulasi bakteri Streptococcus thermophilus.
2. Memberikan
data mengenai peran bekatul terhadap kandungan gizi pada produk makanan.
E.
Hipotesis
|
Ho
|
Tidak
ada perbedaan kandungan laktosa dan zat besi (Fe) yang signifikan antara pada
sampel eksperimen dengan sampel pembanding.
|
|
Ha
|
Ada
perbedaan kandungan laktosa dan zat besi (Fe) yang signifikan antara sampel
eksperimen dengan sampel pembanding.
|
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.
Bekatul
Bekatul di peroleh dari
proses penggilingan atau penumbukan gabah padi menjadi beras. Umumnya, dari
proses penggilingan gabah padi menghasilkan beras sebanyak 60-65%. Sementara
itu, bekatul yang dihasilkan mencapai 8-12%. Produksi bekatul halus dari
penggilingan padi di Indonesia mencapai 4-6 juta ton per tahun.
Beberapa tahun terakhir
minyak bekatul telah diproduksi dan dimanfaatkan sebagi minyak goreng, minyak salad, bahan
baku kosmetik, bahkan dikonsumsi langsung sebagi suplemen kesehatan. Minyak
bekatul mempunyai keunggulan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya, karena
memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang tinggi sehingga bisa menurunkan
kadar kolesterol. Bekatul yang sudah diekstraksi minyaknya mengandung 1-3%
minyak sisa yang sangat baik untuk binatang ternak. Selain itu, juga bisa
melembabkan tanah dan bisa dimanfaatkan untuk industri farmasi.
B. Laktosa
Laktosa adalah gula
susu dan di dapat hanya dalam susu ( atau hasil – hasil dari susu). Zat
tersebut terdiri dari satu molekul glukosa dan satu molekul galaktosa yang
dapat di peroleh pada hidrolisis dengan lactase atau asam. Rasanya kurang manis
di banding maltose, dengan demikian dapat di terangkan mengapa dapat di
konsumsi dalam jumlah besar. Dari sudut ilmu makanan, laktosa merupakan
kekhususan tersendiri karena laktosa merupakan hampir setengahnya dari bahan
kering susu dan karena laktosa tidak terdapat di alam kecuali sebagai produk dari kelenjar susu. Gula tersebut
mempunyai berbagai sifat faali di bandingkan dengan gula – gula lain. Ia kurang
mengalami fermentasi asam dalam lambung dari pada glukosa atau sukrosa, suatu
proses yang dapat menimbulkan iritasi. Laktosa mempertinggi keasaman dalam usus
dan dengan demikian menguntungkan perkembangan jenis bakteri tertentu, yaitu
organism asidofil.
Meskipun laktosa dan sukrosa
mempunyai formula empiris yang sama, keduanya berbeda dalam banyak hal. Laktosa
kurang lebih adalah seperlima semanis sukrosa dan kurang dapat larut. Daya
larutnya yang rendah membuatnya kurang merangsang terhadap lambung dan mukosa
usus daripada gula – gula yang tinggi daya larutnya. Hal tersebut membuatnya
susu bernilai dalam ransum yang di gunakan dalam pengobatan ulkus lambung dan
duodenum. (Anggorodi, 1994)
Banyak kejadian lain berupa diare akibat
minum susu hewani yang disebabkan oleh berkurangnya aktivitas enzim lactase di
dalam tubuh. Gejala yang demikian disebut lactose
intolerance. Fungsi lactase adalah untuk mencerna laktosa (gula susu) dan
menguraikan menjadi glukosa dan galaktosa. Bagi mereka yang sudah terlanjur
menderita lactose intolerance, khususnya
pada lansia, dianjurkan untuk mengkonsumsi produk susu olahan berkadar laktosa
rendah seperti yoghurt, kefir, kalpis, koumiss, yakult atau susu yang sama
sekali bebas laktosa. Susu yang bebas laktosa dadalah susu kacang-kacangan,
seperti susu kedelai, susu kacang ijo, susu kacang tolo, dan sebagainya. (Hartoyo, 2005)
C.
Zat besi (Fe)
Besi merupakan mineral mikro yang paling banyak
terdapat di dalam tubuh manusia dan hewan yaitu sebanyak 3-5 gram di dalam
tubuh manusia dewasa. Besi mempunyai beberapa fungsi esensial di dalam tubuh,
yaitu sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, sebagi alat
angkut electron di dalam sel, dan sebgai bagian terpadu berbagai reaksi enzim
di dalam jaringan tubuh. Walaupun terdapat luas di dalam makanan banyak
penduduk dunia mengalami kekurangan besi, termasuk Idonesi. Kekurangan besi
sejak tiga puluh tahun terakhir di akui berpengaruh terhadap produktivitas
kerja, penampilan kognitif, dan sitem kekebalan (Almnatsier, 2004).
D.
Kedelai
Kacang kedelai merupakan tanaman berupa
semak dengan tinggi mencapai 50 cm dan mempunyai biji berbentuk polong.
Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kaacang kedelai, kacang tanah, koro,
dan lain-lain merupakan bahan pangan sumber protein dan lemak nabati yang
sangat penting peranannya dalam kehidupan. Kedelai mengandung protein 35%,
bahkan pada varietas unggul kadar proteinnya dapat mencapai 40-43% (Cahyadi,
2009).
Kedelai termasuk famili leguminosae (kacang-kacangan).
Klasifikasi lengkapnya sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Sub-kingdom : Cormobionta
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Sub-kelas : Archichlamydae
Ordo : Rosales
Sub-ordo : Leguminosinae
Famili : Leguminosae
Sub-famili : Papilionaceae
Genus : Glycine
Sub-genus : Glycine
Spesies
: Glycine max (L)
E. Susu kedelai
Susu kedelai digunakan sebagai
alternatif susu pengganti susu sapi. Hal ini dikarenakan sus kedelai mempunyai
kandungan protein yang cukup tinggi dengan harga relatif lebih murah jika dibandingkan
dengan sumber protein lainnya. Menurut Henny Krissetiana H., susu kedelai tidak
kalah dengan susu sapi maupun air susu ibu.
F.
Yoghurt
susu kedelai
Yoghurt adalah produk fermentasi. Mutu
yoghurt banyak berhubungan dengan fermentasi yang dilaksanakan dengan
memasukkan jenis-jenis bakteri tertentu. Streptococcus
thermophillus memulai fermentasi laktosa menjadi asam laktat, mengurangi
potensial redokks produ dengan menghilangkan oksigen dan menyebabkan penguraian
protein susu melalui kerja enzim proteoilitk. Hal ini menciptakan kondisi yang
menguntungkan untuk pertumbuhan Lactobacillus
bulgaricus yang mulai berkembang bila pH telah menurun sampai kira-kira
4,5. (Buckle, 1985)
Selain dibuat dari susu segar, yoghurt
juga dapat dibuat dari susu nabati (susu kacang-kacangan). Yoghurt dapat dibuat
dari susu kedelai yang sangat populer dengan sebutan soyghurt. Dibandingkan
denagn yoghurt susu sapi, soyghurt mempunyai beberapa keuntungan , yaitu lebih
sedikit memerlukan starter dan pembuatannya dapat dilakukan pada suhu kamar. (Cahyadi, 2009)
G.
Bakteri asam laktat
Lactic acid bacteria atau bisa disebut
dengan bakteri asam laktat (BAL), merupakan kelompok bakteri baik yang
dibutuhkan oleh manusia karena dapat membantu proses pencernaan. Secara umum
BAL didefinisikan sebagai suatu kelompok bakteri gram positif, tidak
menghasilkan spora, berbetuk bulat atau batang yang memproduksi asam laktat
sebagai produk akhir metabolik utama selama proses fermentasi karbohidrat.
Ø Streptococcus
thermophillus
Mempunyai
sifat-sifat antara lain:
Merupakan
bakteri garm positif, anaerob fakultatif, cytochrome, oxidase, dan katalase
negatif, non-motile, tidak membentuk spora dan homofermentatif, suatu spesies
alpha-hemolytic kelompok viiridans dan, digolongkan sebagai bakteri asam
laktat.
Manfaat
bakteri ini antara lin:
1)
Mampu menghancurkan
patogen, seperti Pseudomonas, E. Coli,
Staphylococcus aureus, Salmonella, dan Shigella
karena dapat menghasilkan “aseton metanol”, suatu agen anti-pathogenik yang
kuat.
2)
Mampu merangsang
produksi “cytokinin” yang terlibat
dalam sistem kekebalan.
3)
Meningkatkan nilai
makanan dengan pembuatan micronutrien tersedia bagi inangnya.
4)
Jika dikombinasikan
dengan L. Bulgaricus, maka secara
komersial dapat menghasilkan susu asam kental.
Jika dikombinasikan
dengan Bifidobacterium bifidum dapat
merontokkan rotavirus dan menyembuhkan diare (Taufiq, 2008).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Lokasi
dan waktu Penelitian
1. Lokasi
Pelaksanaan
penelitian diawali dengan pembuatan yoghurt susu kedelai yang kemudian
dilanjutkan dengan penelitian mengenai kandungan gizi di Laboratorium Teknologi
Pangan, UNIKA.
2. Waktu
Waktu
penelitian dilaksanakan selama ± 4 bulan mulai 1 November 2011 samapai dengan
28 Februari 2012.
- Subjek Penelitian
dan Objek Penelitian
1.
Subjek Penelitian :
Bakteri
Streptococcus thermophilus
2.
Objek Penelitian :
a.
Yoghurt susu kedelai
b.
Ekstrak bekatul
C. Bahan
dan Alat yang Digunakan
1.
Bahan yang digunakan
dalam penelitian ini, antara lain :
a. Perangkat
alat destilasi uap.
b. Magnetic
stirer.
c. Corong
pisah.
d. Wadah
stainless steel.
e. Indikator
universal.
f. Evaporator.
g. Termometer.
h. Kompor
listrik.
i. Gelas
kimia.
j. Pipet
tetes.
2.
Alat yang digunakan
dalam penelitian ini, antara lain :
a. Biakan
bakteri Streptococcus thermophilus
b. Kedelai.
c. Ethylene
Diamine Tetraacetic Acid (EDTA).
d. Gelatin.
e. Larutan
NaOH.
f. Larutan
HCl.
g. Larutan
n-hexane.
h. Urea.
i. Aqua
destilen
D. Definisi
Operasional Variabel
Terdapat variabel utama yang diidentifikasikan menurut fungsinya dapat
dibedakan menjadi :
- Variabel
bebas, yaitu penambahan ekstrak bekatul (0%, 5%, dan 10%) dan inokulasi
bakteri Streptococcus thermophillus
(5%, dan 10%) pada saat susu difermentasi menjadi yoghurt.
- Variabel
terikat, yaitu kandungan laktosa
dan zat besi (Fe)
pada yoghurt susu kedelai.
- Variabel
Kontrol, yaitu varietas padi sebagai bahan bekatul dan varietas kedelai.
E. Parameter
Pada penelitian ini, parameter yang diamati adalah :
1. Kandungan laktosa pada yoghurt susu kedelai.
2. Kandungan zat besi (Fe) pada yoghurt
susu kedelai.
F. Disain eksperimental
Pada penelitian ini menggunakan
penelitian "True-Experimental Research" atau Eksperimental sungguhan
yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab akibat
dengan cara mengenakan pada satu atau lebih kelompok eksperimental satu atau
lebih kelompok kontrol yang tidak dikenali kondisi perlakuan.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF).
Pada rancangan faktorial terdapat
beberapa analisis faktor-faktor penelitiannya Analisis itu meliputi analisis
pengaruh kombinasi perlakuan dilanjutkan lagi dengan analisis komponen-komponen
kombinasi perlakuan, yaitu pengaruh-pengaruh utama dan interaksi.
Rancangan yang digunakan terdiri 6
perlakuan dan 4 kali ulangan, maka terdapat 24 unit percobaan. Rancangan penelitiannya dapat
digambarkan sebagai berikut:
1) Inokulasi
bakteri Streptococcus thermophilus (A):
A1 : inokulasi bakteri 5%
A2 : inokulasi bakteri 10%
2) Penambahan
ekstrak bekatul (B)
B0 : ekstrak bekatul 0%
B1 : ekstrak bekatul 5%
B3 : ekstrak bekatul 10%
Perlakuan yang digunakan:
A1 B0: 100 ml susu
kedelai cair + 5% bakteri Streptococcus thermophilus + 0% ekstrak bekatul.
A1 B1: 100 ml susu
kedelai cair + 5% bakteri Streptococcus thermophilus +5% ekstrak bekatul.
A1 B2: 100 ml susu
kedelai cair + 5% bakteri Streptococcus thermophilus +10% ekstrak bekatul.
A2 B0: 100 ml susu
kedelai cair + 10% bakteri Streptococcus thermophilus + 0% ekstrak bekatul.
A2 B1: 100 ml susu
kedelai cair + 10% bakteri Streptococcus thermophilus + 5% ekstrak bekatul.
A2 B2: 100 ml susu
kedelai cair + 10% bakteri Streptococcus thermophilus + 10% ekstrak bekatul
Masing-masing perlakuan diulang sebanyak
4 kali sehingga ada 24 unit percobaan untuk membentuk unit perlakuan dan
ulangan dilakukan dengan menggunakan tabel bilangan acak. Pengacakan dilakukan
pada seluruh materi percobaan secara merata sebelum percobaan dimulai.
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
|
1
A2 B0
|
7
A1 B0
|
13
A2
B1
|
19
A1
B2
|
|
2
A1 B0
|
8
A2 B1
|
14
A1 B2
|
20
A2 B0
|
|
3
A1 B2
|
9
A1 B2
|
15
A2 B2
|
21
A1 B0
|
|
4
A1 B1
|
10
A2 B2
|
16
A2 B0
|
22
A1 B1
|
|
5
A2 B1
|
11
A1 B1
|
17
A1 B0
|
23
A2 B2
|
|
6
A2B2
|
12
A2 B0
|
18
A1 B1
|
24
A2 B1
|
|
Gb.
Denah percobaan
|
Keterangan :
Angka indeks : Menunjukkan pada perlakuan
Angka sebelah kanan : Menunjukkan tempat ke –
Angka romawi : Menunjukkan pengulangan ke –
G. Prosedur
kerja
i.
Persiapan dan Pelaksanaan Eksperimen
Persiapan sebelum penelitian adalah
mengumpulkan alat dan bahan pembuatan yoghurt susu kedelai serta ekstrak
bekatul. Pelaksanaan eksperimen
dimulai dengan mengekstraksi bekatul menjadi minyak. Kemudian, menfermentasi
susu kedelai menjadi yoghurt. Setelah itu menambahkan ekstrak bekatul ke dalam
yoghurt susu kedelai yang masih dalam keadaan solid.
ii.
Teknik Observasi dan Pengumpulan Data
Proses pengumpulan data diawali dengan
pembuatan susu kedelai yang kemudian dilanjutkan dengan penelitian mengenai
kandungan gizi di Laboratorium Teknologi Pangan, UNIKA. Data yang diperoleh
yaitu jumlah kandungan laktosa dan zat besi (Fe) yang terkandung dalam yoghurt
susu kedelai.
iii.
Analisis dan Interpretasi Data
Dari
data pengamatan dan perhitungan tentang kandungan laktosa dan zt besi (Fe) pada
yoghurt susu kedelai dengan inoklasi bakteri, maka dapat dimasukkan dalam tabel
sebagai berikut:
Tabel 1. Data kandungan laktosa pada
yoghurt susu kedelai.
|
Inokulasi bakteri
|
Ekstrak bekatul
|
Ulangan
|
TAB
|
Rata-rata AB
|
|||
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
||||
|
A1
|
B0
|
|
|
|
|
|
|
|
B1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
B2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
A2
|
B0
|
|
|
|
|
|
|
|
B1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
B2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
TK
|
|
|
|
|
|
|
|
Tabel
2. Data kandungan zat besi (Fe) pada yoghurt susu kedelai.
|
Inokulasi bakteri
|
Ekstrak bekatul
|
Ulangan
|
TAB
|
Rata-rata AB
|
|||
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
||||
|
A1
|
B0
|
|
|
|
|
|
|
|
B1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
B2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
A2
|
B0
|
|
|
|
|
|
|
|
B1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
B2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
TK
|
|
|
|
|
|
|
|
Keterangan:
TAB : total AB
TK : total korelasi
Setelah data diperoleh dilakukan analisis jumlah kuadrat.
a.
Analisis
jumlah kuadrat
1. FK =
2. JK
total = T(Yijk2)
– FK
3. JK
kelompok =
- FK
4. JK
kombinasi perlakuan =
- FK
5. JK
galat= JK total – JK kelompok – JK kombinasi perlakuan.
Setelah itu dilanjutkan dengan analisis
faktorial. Data dibuat dalam tabel menurut faktor AxB terlebih dahulu. Berikut ini adalah tabel untuk analisis
faktorial.
b.
Analisis
faktorial
Tabel 3. Data
kandungan laktosa
pada yoghurt susu kedelai.
|
Faktor B
|
Faktor A
|
TB
|
Rata-rata B
|
|
|
A1
|
A2
|
|||
|
B0
|
|
|
|
|
|
B1
|
|
|
|
|
|
B2
|
|
|
|
|
|
TA
|
|
|
Tijk
|
|
|
Rata-rata A
|
|
|
|
Rata-rata ijk
|
Tabel 4. Data
kandungan zat besi (Fe)
pada yoghurt susu kedelai.
|
Faktor B
|
Faktor A
|
TB
|
Rata-rata B
|
|
|
A1
|
A2
|
|||
|
B0
|
|
|
|
|
|
B1
|
|
|
|
|
|
B2
|
|
|
|
|
|
TA
|
|
|
Tijk
|
|
|
Rata-rata A
|
|
|
|
Rata-rata ijk
|
6. JK
faktor A (JKA) =
- FK
7. JK
faktor B (JKB) =
- FK
8. JK
interaksi AB = JK kombonasi perlakuan –
JKA – JKB
c.
Analisis
sidik ragam
Tabel 5. Tabel
analisis sidik ragam..
|
Sumber
Keragaman (SK)
|
Derajat
Bebas (DB)
|
Jumlah
Kuadrat (JK)
|
Kuadrat
Tengah (KT)
|
F
Hitung
|
F table
|
|
|
5%
|
1%
|
|||||
|
Kelompok
kombinasi
-faktor A
-faktor B
-faktor
interaksi
Galat
Total
|
r
– 1
kp
– 1
m
– 1
n
– 1
kp
– n – m
(rmn-1)
– (r-1) – (kp-1)
rmn
– 1
|
|
|
|
|
|
kp : Banyaknya perlakuan
r
: Banyaknya ulangan
Sk : Sumber keragaman
JK : Jumlah kuadrat
KT : kuadrat tengah
JKU
: Jumlah kuadrat ulangan
JKP : Jumlah kuadrat perlakuan
JKG : Jumlah kuadrat galat
Db : Derajat bebas
m :
jumlah perlakuan A
n :
jumlah perlakuan B
1) Derajat bebas (v)
a) vk = r – 1
b) vkp = kp – 1
·
vA = m – 1
·
vB = n – 1
·
vi = vkp – vA - vB
c) vG = vt – vk - vkp
d) vt = rmn – 1
2) JK
dari hasil perhitungan JK
3) Kuadrat
tengan (KT):
a) KTK =
b) KTKP =
·
KTA =
·
KTB =
·
KTI =
c) KTG =
= E
4) F
hitung:
a) Fk =
b) Fpk =
·
FA =
·
FB =
·
FI =
5) Uji
F
a) Fk
vs F (vk, vG)
b) Fkp
vs F (vkp, vG)
·
FA vs F (vA,
vG)
·
FB vs F (vB,
vG)
·
FI vs F (vI,
vG)
Untuk menerima atau menolak hipotesis
penelitian dengan kriteria sebagai berikut :
1.
Jika
nilai F hitung ≥ F tabel pada taraf nyata 5%, pengaruh dosis ekstrak bekatul dan inokulasi
bakteri Streptococcus thermophilus terhadap
kandungan laktosa
dan zat besi (Fe) pada yoghurt
susu kedelai dinyatakan nyata
atau signifikan berarti Ho ditolak Ha diterima.
2.
Jika
nilai F hitung ≥ F tabel pada taraf nyata 1%, pengaruh
dosis ekstrak bekatul dan inokulasi bakteri Streptococcus
thermophilus terhadap kandungan laktosa dan zat besi (Fe) pada yoghurt
susu kedelai dinyatakan sangat
nyata atau sangat signifikan berarti Ho ditolak Ha diterima.
3.
Jika
nilai F hitung < F tabel pada taraf nyata 5%,
pengaruh dosis ekstrak bekatul dan inokulasi bakteri Streptococcus thermophilus terhadap
kandungan laktosa
dan zat besi (Fe) pada yoghurt
susu kedelai dinyatakan tidak
nyata atau tidak signifikan berarti Ho diterima Ha ditolak.
Percobaan
dilanjutkan dengan uji beda pengaruh utama dengan menggunakan Uji Beda Nyata
Terkecil (BNT)
a.
Untuk uji beda pengaruh
utama A
BNTα(A) = tα x SdA
=
tα x
b.
Untuk uji beda pengaruh
utama B
BNTα(B) = tα x SdB
=
tα x
c.
Untuk uji beda pengaruh
interaksi AB
BNTα(AB) = tα x SdAB
=
tα x
Dimana:
E : kuadrat tengah galat
Sd : galat baku rata deviasi
r
: jumlah kelompok
m : jumlah perlakuan/tingkat faktor A
n : jumlah perlakuan tingkat faktor B
Dari hasil uji
beda pengaruh tunggal dapat ditentukan:
1.
Perlakuan A optimum
untuk setiap tingkat faktor B
2.
Perlakuan B optimum
untuk setiap tingkat faktor A
Kemudian
dari hasil uji beda pengaruh interaksi dapat ditentukan kombinasi perlakuan A
dan B yang paling optimum. Atas dasar hasil uji F dan uji lanjutan inilah
kesimpulan hasil-hasil percobaan dirumuskan.
DAFTAR
PUSTAKA
Adisarwanto,2005.
KEDELAI. Jakarta : Penebar Swadaya
Almatsier,
Sunita. 2004. Prinsip dasar ilmu gizi.
Jakarta : Gramedia
Anggorodi , 1994.Ilmu Makanan Ternak
Umum .Jakarta : PT Gramedia
Pustaka Utama
Buckle,
K.A., R.A. Edwards, G.H.M. Wootton. 1987. Ilmu
Pangan.
Jakarta
: UI Pres
Cahyadi,
wisnu. 2007.KEDELAI KHASIAT DAN TEKNOLOGI.
Jakarta:
Bumi aksara
Gomez,
Arturo. A dan Gomez,A.K.1995. Prosedur
statistic untuk
penelitian
pertanian
cetakan pertama Edisi ke-2. Jakarta: UI Press
Pratiwi,Silvia.2008.Mikrobiologi farmasi.jakarta:erlangga.
Rukmana,
Rahmat dan Yuyun Yuniarsih. 1996. Kedelai Bididaya dan Pascapanen. Yogyakarta:
Kanisius.
Taufiq A,
Tuhana. 2008. Susu Fermentasi untuk Kebugaran & Pengobatan. Yogyakarta:
Universiitas Atma Jaya.
Tejasari,
2005.Nilai Gizi Pangan. Yogjakarta :
Graha ilmu
Winarno,2004. Kimia Pangan dan Gizi.Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama
Yuniastuti,
Ari. 2008. Gizi dan kesehatan.
Yogyakarta: Graha ilmu
http://www.scribd.com/doc/46661971/Banyak-Orang-Yang-Beralih-Ke-Susu-Kedelai-Karena-Alergi-Terhadap-Laktosa
diakses tanggal 5 november 2011

aduhhhhhhhhhhhh tak kuwat rekkkkkkkkkkkkkkk
BalasHapusngmg opo tah we,,,
BalasHapus