Jumat, 23 Desember 2011

PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK BEKATUL TERHADAP KANDUNGAN LAKTOSA DAN ZAT BESI (Fe) PADA YOGHURT SUSU KEDELAI DENGAN INOKULASI BAKTERI Streptococcus thermophilus


PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK BEKATUL TERHADAP KANDUNGAN LAKTOSA DAN ZAT BESI (Fe) PADA YOGHURT SUSU KEDELAI DENGAN INOKULASI BAKTERI Streptococcus thermophilus
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas  Seminar Biologi







Oleh:
DANANG DWI AGUSTIN
NPM: 08320343

IKIP PGRI SEMARANG
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
SEMARANG
2011


A.    Judul skripsi
PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK BEKATUL TERHADAP KANDUNGAN LAKTOSA DAN ZAT BESI (Fe) PADA YOGHURT SUSU KEDELAI DENGAN INOKULASI BAKTERI Streptococcus thermophilus
Danang Dwi A (08320343)

B.     Abstrak
Penelitian ini didasari karena rendahnya Laktosa dan adanya Zat Besi yang terdapat dalam yoghurt susu kedelai. Penelitian dilakukan dengan membandingkan kandungan Laktosa dan Zat Besi yang terdapat dalam yoghurt susu kedelai sebelum ditambahkan dengan ekstrak bekatul dengan setelah ditambahkan ekstrak bekatul.Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan ekstrak bekatul terhadap kandungan Zat besi  dan Laktosa  pada yoghurt susu kedelai dengan inokulasi bakteri Streptococcus thermophilus

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium IKIP PGRI Semarang dan analisis hasil penelitian di Laboratorium Pangan dan Gizi UNIKA, yang dimulai pada 1 Desember 2011 sampai dengan 1 Januari 2012. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 6 perlakuan dan 2 pengulangan. Parameter yang diteliti adalah Laktosa dan Zat Besi pada yoghurt susu kedelai setelah ditambahkan dengan ekstrak bekatul.
Kata kunci : Ekstrak bekatul, kandungan Laktosa dan Zat Besi, Yogurth susu kedelai, Streptococcus thermophilus





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Susu kedelai merupakan salah satu jenis susu yang sudah banyak ditemukan di lingkungan masyarakat. Susu ini dijadikan salah satu alternatif susu untuk dikonsumsi, karena harganya lebih murah jika dibandingkan dengan susu sapi. Selain harganya yang murah, susu kedelai juga mempunyai nilai gizi yang sangat tinggi, terutama kandungan protein nabati.
Dari segi harga yang ekonomis dan kandungan gizi yang cukup banyak pada susu kedelai ditemukan suatu kendala yaitu, rasa susu kedelai yang sedikit langu jika diminum. Karena rasanya itulah susu kedelai tidak menjadi minuman yang favorit bagi masyarakat. Demi meningkatkan nilai ekonomis susu kedelai, tanpa mengurangi kandungan gizi susu kedelai maka susu tersebut akan dibuat menjadi yoghurt atau lebih dikenal dengan nama soyghurt.
Yoghurt merupakan salah satu produk susu yang telah mengalami fermentasi. Biasanya terbuat dari susu segar, baik itu susu sapi maupun susu kambing yang diberi bakteri Lactobacillus bulgaricus atau Streptococcus thermophilus. Cita rasa asam yang khas pada yoghurt merupakan asam laktat yang dihasilkan oleh bakteri tersebut. Agar susu menjadi lebih awet maka dibuatlah yoghurt untuk mempertahankan kandungan gizi didalamnya. Namun ternyata dengan menambahkan bakteri pada susu tersebut mampu meningkatkan kandungan gizi yang ada didalam susu. Konsumsi yoghurt di kalangan masyarakat semakin lama mengalami peningkatan karena manfaatnya untuk kesehatan. Yoghurt mengandung banyak jenis bakteri yang menguntungkan (bakteri asam laktat) untuk membantu sistem pencernaan makanan di dalam tubuh manusia. Bakteri asam laktat merupakan jenis bakteri yang ramah lingkungan dan menguntungkan bagi manusia. Dengan demikian dapat dipahami mengkonsumsi susu fermentasi secara teratur selain dapat mencukupi kebutuhan gizi manusia juga dapat menjaga kesehatan pencernaan.
Pengembangan susu kedelai menjadi soyghurt dimulai karena aroma khas susu kedelai yang kurang begitu disukai oleh konsumen. Dibandingkan dengan yoghurt susu sapi, yoghurt susu kedelai mempunyai beberapa keuntungan, yaitu lebih sedikit memerlukan starter (Cahyadi, 2009).
Winarno (1993) menyatakan, timbulnya rasa langu (beany flavor) disebabkan oleh kerja enzim lipoksigenase yang terdapat dalam bijji kedelai. Terjadinya bau langu muncul terutama waktu pengolahan, yaitu setelah tercampurnya lipoksigenase dengan lemak kedelai.

B.     Permasalahan
  Berdasarkan latar belakang pemilihan masalah penelitian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.      Apakah ada pengaruh penambahan ekstrak bekatul terhadap kandungan laktosa dan zat besi (Fe) pada yoghurt susu kedelai dengan inokulasi bakteri Streptococcus thermophilus?
2.      Pada dosis berapakah inokulasi bakteri Stherptococcus thermophilus dan ekstrak bekatul dapat memberikan pengaruh paling tinggi terhadap kandungan laktosa dan zat besi (Fe) pada yoghurt susu kedelai?

C.       Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1.      Mengetahui pengaruh penambahan ekstrak bekatul terhadap kandungan laktosa dan zat besi (Fe) pada yoghurt susu kedelai dengan inokulasi bakteri Streptococcus thermophilus.
2.      Mengetahui dosis inokulasi bakteri Streptococcus thermophilus dan ekstrak bekatul dapat memberikan pengaruh paling tinggi terhadap kandungan laktosa dan zat besi (Fe) pada yoghurt susu kedelai.
D.       Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat diperoleh manfaat sebagai berikut:
1.      Menambah informasi tentang pengaruh penambahan ekstrak bekatul terhadap kandungan laktosa dan zat besi (Fe) pada yoghurt susu kedelai dengan inokulasi bakteri Streptococcus thermophilus.
2.      Memberikan data mengenai peran bekatul terhadap kandungan gizi pada produk makanan.
E.        Hipotesis
Ho
Tidak ada perbedaan kandungan laktosa dan zat besi (Fe) yang signifikan antara pada sampel eksperimen dengan sampel pembanding.
  Ha
Ada perbedaan kandungan laktosa dan zat besi (Fe) yang signifikan antara sampel eksperimen dengan sampel pembanding.










BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Bekatul
Bekatul di peroleh dari proses penggilingan atau penumbukan gabah padi menjadi beras. Umumnya, dari proses penggilingan gabah padi menghasilkan beras sebanyak 60-65%. Sementara itu, bekatul yang dihasilkan mencapai 8-12%. Produksi bekatul halus dari penggilingan padi di Indonesia mencapai 4-6 juta ton per tahun.
Beberapa tahun terakhir minyak bekatul telah diproduksi dan dimanfaatkan sebagi minyak goreng, minyak salad, bahan baku kosmetik, bahkan dikonsumsi langsung sebagi suplemen kesehatan. Minyak bekatul mempunyai keunggulan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya, karena memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang tinggi sehingga bisa menurunkan kadar kolesterol. Bekatul yang sudah diekstraksi minyaknya mengandung 1-3% minyak sisa yang sangat baik untuk binatang ternak. Selain itu, juga bisa melembabkan tanah dan bisa dimanfaatkan untuk industri farmasi.
   B.     Laktosa
Laktosa adalah gula susu dan di dapat hanya dalam susu ( atau hasil – hasil dari susu). Zat tersebut terdiri dari satu molekul glukosa dan satu molekul galaktosa yang dapat di peroleh pada hidrolisis dengan lactase atau asam. Rasanya kurang manis di banding maltose, dengan demikian dapat di terangkan mengapa dapat di konsumsi dalam jumlah besar. Dari sudut ilmu makanan, laktosa merupakan kekhususan tersendiri karena laktosa merupakan hampir setengahnya dari bahan kering susu dan karena laktosa tidak terdapat di alam kecuali sebagai  produk dari kelenjar susu. Gula tersebut mempunyai berbagai sifat faali di bandingkan dengan gula – gula lain. Ia kurang mengalami fermentasi asam dalam lambung dari pada glukosa atau sukrosa, suatu proses yang dapat menimbulkan iritasi. Laktosa mempertinggi keasaman dalam usus dan dengan demikian menguntungkan perkembangan jenis bakteri tertentu, yaitu organism asidofil.
            Meskipun laktosa dan sukrosa mempunyai formula empiris yang sama, keduanya berbeda dalam banyak hal. Laktosa kurang lebih adalah seperlima semanis sukrosa dan kurang dapat larut. Daya larutnya yang rendah membuatnya kurang merangsang terhadap lambung dan mukosa usus daripada gula – gula yang tinggi daya larutnya. Hal tersebut membuatnya susu bernilai dalam ransum yang di gunakan dalam pengobatan ulkus lambung dan duodenum. (Anggorodi, 1994)
Banyak kejadian lain berupa diare akibat minum susu hewani yang disebabkan oleh berkurangnya aktivitas enzim lactase di dalam tubuh. Gejala yang demikian disebut lactose intolerance. Fungsi lactase adalah untuk mencerna laktosa (gula susu) dan menguraikan menjadi glukosa dan galaktosa. Bagi mereka yang sudah terlanjur menderita lactose intolerance, khususnya pada lansia, dianjurkan untuk mengkonsumsi produk susu olahan berkadar laktosa rendah seperti yoghurt, kefir, kalpis, koumiss, yakult atau susu yang sama sekali bebas laktosa. Susu yang bebas laktosa dadalah susu kacang-kacangan, seperti susu kedelai, susu kacang ijo, susu kacang tolo, dan sebagainya. (Hartoyo, 2005)

C.    Zat besi (Fe)
Besi merupakan mineral mikro yang paling banyak terdapat di dalam tubuh manusia dan hewan yaitu sebanyak 3-5 gram di dalam tubuh manusia dewasa. Besi mempunyai beberapa fungsi esensial di dalam tubuh, yaitu sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, sebagi alat angkut electron di dalam sel, dan sebgai bagian terpadu berbagai reaksi enzim di dalam jaringan tubuh. Walaupun terdapat luas di dalam makanan banyak penduduk dunia mengalami kekurangan besi, termasuk Idonesi. Kekurangan besi sejak tiga puluh tahun terakhir di akui berpengaruh terhadap produktivitas kerja, penampilan kognitif, dan sitem kekebalan (Almnatsier, 2004).

D.    Kedelai
Kacang kedelai merupakan tanaman berupa semak dengan tinggi mencapai 50 cm dan mempunyai biji berbentuk polong. Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kaacang kedelai, kacang tanah, koro, dan lain-lain merupakan bahan pangan sumber protein dan lemak nabati yang sangat penting peranannya dalam kehidupan. Kedelai mengandung protein 35%, bahkan pada varietas unggul kadar proteinnya dapat mencapai 40-43% (Cahyadi, 2009).
Kedelai termasuk famili leguminosae (kacang-kacangan). Klasifikasi lengkapnya sebagai berikut:
Kingdom         : Plantae
Sub-kingdom  : Cormobionta
Divisi               : Spermatophyta
Sub-divisi        : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledoneae
Sub-kelas         : Archichlamydae
Ordo                : Rosales
Sub-ordo         : Leguminosinae
Famili              : Leguminosae
Sub-famili       : Papilionaceae
Genus              : Glycine
Sub-genus       : Glycine
Spesies            : Glycine max (L)


E.     Susu kedelai

Susu kedelai digunakan sebagai alternatif susu pengganti susu sapi. Hal ini dikarenakan sus kedelai mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi dengan harga relatif lebih murah jika dibandingkan dengan sumber protein lainnya. Menurut Henny Krissetiana H., susu kedelai tidak kalah dengan susu sapi maupun air susu ibu.

F.     Yoghurt susu kedelai
Yoghurt adalah produk fermentasi. Mutu yoghurt banyak berhubungan dengan fermentasi yang dilaksanakan dengan memasukkan jenis-jenis bakteri tertentu. Streptococcus thermophillus memulai fermentasi laktosa menjadi asam laktat, mengurangi potensial redokks produ dengan menghilangkan oksigen dan menyebabkan penguraian protein susu melalui kerja enzim proteoilitk. Hal ini menciptakan kondisi yang menguntungkan untuk pertumbuhan Lactobacillus bulgaricus yang mulai berkembang bila pH telah menurun sampai kira-kira 4,5. (Buckle, 1985)
Selain dibuat dari susu segar, yoghurt juga dapat dibuat dari susu nabati (susu kacang-kacangan). Yoghurt dapat dibuat dari susu kedelai yang sangat populer dengan sebutan soyghurt. Dibandingkan denagn yoghurt susu sapi, soyghurt mempunyai beberapa keuntungan , yaitu lebih sedikit memerlukan starter dan pembuatannya dapat dilakukan pada suhu kamar. (Cahyadi, 2009)

G.    Bakteri asam laktat
Lactic acid bacteria atau bisa disebut dengan bakteri asam laktat (BAL), merupakan kelompok bakteri baik yang dibutuhkan oleh manusia karena dapat membantu proses pencernaan. Secara umum BAL didefinisikan sebagai suatu kelompok bakteri gram positif, tidak menghasilkan spora, berbetuk bulat atau batang yang memproduksi asam laktat sebagai produk akhir metabolik utama selama proses fermentasi karbohidrat.
Ø  Streptococcus thermophillus
Mempunyai sifat-sifat antara lain:
Merupakan bakteri garm positif, anaerob fakultatif, cytochrome, oxidase, dan katalase negatif, non-motile, tidak membentuk spora dan homofermentatif, suatu spesies alpha-hemolytic kelompok viiridans dan, digolongkan sebagai bakteri asam laktat.
Manfaat bakteri ini antara lin:
1)      Mampu menghancurkan patogen, seperti Pseudomonas, E. Coli, Staphylococcus aureus, Salmonella, dan Shigella karena dapat menghasilkan “aseton metanol”, suatu agen anti-pathogenik yang kuat.
2)      Mampu merangsang produksi “cytokinin” yang terlibat dalam sistem kekebalan.
3)      Meningkatkan nilai makanan dengan pembuatan micronutrien tersedia bagi inangnya.
4)      Jika dikombinasikan dengan L. Bulgaricus, maka secara komersial dapat menghasilkan susu asam kental.
Jika dikombinasikan dengan Bifidobacterium bifidum dapat merontokkan rotavirus dan menyembuhkan diare (Taufiq, 2008).



BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.    Lokasi dan waktu Penelitian
1.    Lokasi
Pelaksanaan penelitian diawali dengan pembuatan yoghurt susu kedelai yang kemudian dilanjutkan dengan penelitian mengenai kandungan gizi di Laboratorium Teknologi Pangan, UNIKA.
2.    Waktu
Waktu penelitian dilaksanakan selama ± 4 bulan mulai 1 November 2011 samapai dengan 28 Februari 2012.
  1. Subjek Penelitian dan Objek Penelitian
1.    Subjek Penelitian :
Bakteri Streptococcus thermophilus
2.    Objek Penelitian :
a.    Yoghurt susu kedelai
b.    Ekstrak bekatul

C.  Bahan dan Alat yang Digunakan
1.    Bahan yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain :

a.    Perangkat alat destilasi uap.
b.    Magnetic stirer.
c.    Corong pisah.
d.   Wadah stainless steel.
e.    Indikator universal.
f.     Evaporator.
g.    Termometer.
h.    Kompor listrik.
i.      Gelas kimia.
j.      Pipet tetes.

2.    Alat yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain :

a.    Biakan bakteri Streptococcus thermophilus
b.    Kedelai.
c.    Ethylene Diamine Tetraacetic Acid (EDTA).
d.   Gelatin.
e.    Larutan NaOH.
f.     Larutan HCl.
g.    Larutan n-hexane.
h.    Urea.
i.      Aqua destilen


D.  Definisi Operasional Variabel
Terdapat variabel utama yang diidentifikasikan menurut fungsinya dapat dibedakan menjadi :
    1. Variabel bebas, yaitu penambahan ekstrak bekatul (0%, 5%, dan 10%) dan inokulasi bakteri Streptococcus thermophillus  (5%, dan 10%) pada saat susu difermentasi menjadi yoghurt.
    2. Variabel terikat, yaitu kandungan laktosa dan zat besi (Fe) pada yoghurt susu kedelai.
    3. Variabel Kontrol, yaitu varietas padi sebagai bahan bekatul dan varietas kedelai.
E.  Parameter
Pada penelitian ini, parameter yang diamati adalah :
1. Kandungan laktosa  pada yoghurt susu kedelai.
2. Kandungan zat besi (Fe) pada yoghurt susu kedelai.

F.   Disain eksperimental
Pada penelitian ini menggunakan penelitian "True-Experimental Research" atau Eksperimental sungguhan yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab akibat dengan cara mengenakan pada satu atau lebih kelompok eksperimental satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenali kondisi perlakuan.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF). Pada rancangan faktorial  terdapat beberapa analisis faktor-faktor penelitiannya Analisis itu meliputi analisis pengaruh kombinasi perlakuan dilanjutkan lagi dengan analisis komponen-komponen kombinasi perlakuan, yaitu pengaruh-pengaruh utama dan interaksi.
Rancangan yang digunakan terdiri 6 perlakuan dan 4 kali ulangan, maka terdapat 24 unit  percobaan. Rancangan penelitiannya dapat digambarkan sebagai berikut:
1)      Inokulasi bakteri Streptococcus thermophilus (A):
A1  : inokulasi bakteri 5%
A2  :  inokulasi bakteri 10%
2)      Penambahan ekstrak bekatul (B)
B0  : ekstrak bekatul 0%
B1  : ekstrak bekatul 5%
B3  : ekstrak bekatul 10%
Perlakuan yang digunakan:
A1 B0: 100 ml susu kedelai cair + 5% bakteri Streptococcus thermophilus + 0% ekstrak bekatul.
A1 B1: 100 ml susu kedelai cair + 5% bakteri Streptococcus thermophilus +5% ekstrak bekatul.
A1 B2: 100 ml susu kedelai cair + 5% bakteri Streptococcus thermophilus +10% ekstrak bekatul.
A2 B0: 100 ml susu kedelai cair + 10% bakteri Streptococcus thermophilus + 0% ekstrak bekatul.
A2 B1: 100 ml susu kedelai cair + 10% bakteri Streptococcus thermophilus + 5% ekstrak bekatul.
A2 B2: 100 ml susu kedelai cair + 10% bakteri Streptococcus thermophilus + 10% ekstrak bekatul
Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga ada 24 unit percobaan untuk membentuk unit perlakuan dan ulangan dilakukan dengan menggunakan tabel bilangan acak. Pengacakan dilakukan pada seluruh materi percobaan secara merata sebelum percobaan dimulai.
I
II
III
IV
1
A2 B0
7
A1 B0
                        13
A2 B1
                            19
A1 B2
2
A1 B0
8
A2 B1
14
A1 B2
20
A2 B0
3
A1 B2
9
A1 B2
15
A2 B2
21
A1 B0
4
A1 B1
10
A2 B2
16
A2 B0
22
A1 B1
5
A2 B1
11
A1 B1
17
A1 B0
23
A2 B2
6
A2B2
12
A2 B0
18
A1 B1
24
A2 B1
Gb. Denah percobaan

Keterangan :
Angka indeks                        : Menunjukkan pada perlakuan
Angka sebelah kanan             : Menunjukkan tempat ke –
Angka romawi                       : Menunjukkan pengulangan ke –
G.  Prosedur kerja
                       i.      Persiapan dan Pelaksanaan Eksperimen
Persiapan sebelum penelitian adalah mengumpulkan alat dan bahan pembuatan yoghurt susu kedelai serta ekstrak bekatul. Pelaksanaan eksperimen dimulai dengan mengekstraksi bekatul menjadi minyak. Kemudian, menfermentasi susu kedelai menjadi yoghurt. Setelah itu menambahkan ekstrak bekatul ke dalam yoghurt susu kedelai yang masih dalam keadaan solid.
                     ii.      Teknik Observasi dan Pengumpulan Data
Proses pengumpulan data diawali dengan pembuatan susu kedelai yang kemudian dilanjutkan dengan penelitian mengenai kandungan gizi di Laboratorium Teknologi Pangan, UNIKA. Data yang diperoleh yaitu jumlah kandungan laktosa dan zat besi (Fe) yang terkandung dalam yoghurt susu kedelai.
                   iii.      Analisis dan Interpretasi Data
Dari data pengamatan dan perhitungan tentang kandungan laktosa dan zt besi (Fe) pada yoghurt susu kedelai dengan inoklasi bakteri, maka dapat dimasukkan dalam tabel sebagai berikut:
           Tabel 1. Data kandungan laktosa pada yoghurt susu kedelai.
Inokulasi bakteri
Ekstrak bekatul
Ulangan
TAB
Rata-rata AB
I
II
III
IV
A1
B0






B1






B2






A2
B0






B1






B2






TK








             Tabel 2. Data kandungan zat besi (Fe) pada yoghurt susu kedelai.
Inokulasi bakteri
Ekstrak bekatul
Ulangan
TAB
Rata-rata AB
I
II
III
IV
A1
B0






B1






B2






A2
B0






B1






B2






TK









Keterangan:
TAB       : total AB
TK          : total korelasi
   Setelah data diperoleh dilakukan analisis jumlah kuadrat.
a.   Analisis jumlah kuadrat
1.      FK            =
2.      JK total    = T(Yijk2) – FK
3.      JK kelompok        = - FK
4.      JK kombinasi perlakuan   =  - FK
5.      JK galat= JK total – JK kelompok – JK kombinasi perlakuan.
Setelah itu dilanjutkan dengan analisis faktorial. Data dibuat dalam tabel menurut faktor AxB terlebih dahulu. Berikut ini adalah tabel untuk analisis faktorial.
b.      Analisis faktorial
         Tabel 3. Data kandungan laktosa pada yoghurt susu kedelai.
Faktor B
Faktor A
TB
Rata-rata B
A1
A2
B0




B1




B2




TA


Tijk

Rata-rata A



Rata-rata ijk

         Tabel 4. Data kandungan zat besi (Fe) pada yoghurt susu kedelai.
Faktor B
Faktor A
TB
Rata-rata B
A1
A2
B0




B1




B2




TA


Tijk

Rata-rata A



Rata-rata ijk

6.      JK faktor A (JKA)           =  - FK
7.      JK faktor B (JKB)           =  - FK
8.      JK interaksi AB   = JK kombonasi perlakuan – JKA – JKB
c.       Analisis sidik ragam
      Tabel 5. Tabel analisis sidik ragam..
Sumber Keragaman (SK)
Derajat Bebas (DB)
Jumlah Kuadrat (JK)
Kuadrat Tengah (KT)
F
Hitung
F  table
5%
1%
Kelompok
kombinasi
-faktor A
-faktor B
-faktor interaksi
Galat
Total
r – 1
kp – 1
m – 1
n – 1
kp – n – m
(rmn-1) – (r-1) – (kp-1)
rmn – 1






kp       : Banyaknya perlakuan
r          : Banyaknya ulangan
Sk       : Sumber keragaman
JK       : Jumlah kuadrat
KT      : kuadrat tengah
JKU    : Jumlah kuadrat ulangan
JKP   : Jumlah kuadrat perlakuan
JKG   : Jumlah kuadrat galat
Db      : Derajat bebas
m        : jumlah perlakuan A
n         : jumlah perlakuan B
1)  Derajat bebas (v)   
a)      vk            = r – 1
b)      vkp        = kp – 1
·         vA        = m – 1
·         vB        = n – 1
·         vi         = vkp – vA - vB 
c)      vG        = vt – vk - vkp
d)     vt         = rmn – 1
2)      JK dari hasil perhitungan JK
3)      Kuadrat tengan (KT):
a)      KTK    =
b)      KTKP  =
·         KTA    =
·         KTB    =
·         KTI     =
c)      KTG    = = E
4)      F hitung:
a)      Fk         =
b)      Fpk       =
·                   FA        =
·                   FB        =
·                   FI         =
5)      Uji F
a)      Fk vs F (vk, vG)
b)      Fkp vs F (vkp, vG)
·         FA vs F (vA, vG)
·         FB vs F (vB, vG)
·         FI vs F (vI, vG)
Untuk menerima atau menolak hipotesis penelitian dengan kriteria sebagai berikut :
1.      Jika nilai F hitung ≥ F tabel pada taraf nyata 5%,  pengaruh dosis ekstrak bekatul dan inokulasi bakteri  Streptococcus thermophilus terhadap kandungan laktosa dan zat besi (Fe) pada yoghurt susu kedelai dinyatakan nyata atau signifikan berarti Ho ditolak Ha diterima.
2.      Jika nilai F hitung ≥ F tabel pada taraf nyata 1%, pengaruh dosis ekstrak bekatul dan inokulasi bakteri  Streptococcus thermophilus terhadap kandungan laktosa dan zat besi (Fe) pada yoghurt susu kedelai dinyatakan sangat nyata atau sangat signifikan berarti Ho ditolak Ha diterima.
3.      Jika nilai F hitung < F tabel pada taraf  nyata 5%,  pengaruh dosis ekstrak bekatul dan inokulasi bakteri  Streptococcus thermophilus terhadap kandungan laktosa dan zat besi (Fe) pada yoghurt susu kedelai dinyatakan tidak nyata atau tidak signifikan berarti Ho diterima Ha ditolak.
           Percobaan dilanjutkan dengan uji beda pengaruh utama dengan menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT)
a.       Untuk uji beda pengaruh utama A
BNTα(A)         = tα x SdA
                      = tα x
b.      Untuk uji beda pengaruh utama B
BNTα(B)         = tα x SdB
                      = tα x
c.       Untuk uji beda pengaruh interaksi AB
BNTα(AB)        = tα x SdAB
                      = tα x
Dimana:
E : kuadrat tengah galat
Sd : galat baku rata deviasi
r  : jumlah kelompok
m : jumlah perlakuan/tingkat faktor A
n : jumlah perlakuan tingkat faktor B
Dari hasil uji beda pengaruh tunggal dapat ditentukan:
1.         Perlakuan A optimum untuk setiap tingkat faktor B
2.         Perlakuan B optimum untuk setiap tingkat faktor A
  Kemudian dari hasil uji beda pengaruh interaksi dapat ditentukan kombinasi perlakuan A dan B yang paling optimum. Atas dasar hasil uji F dan uji lanjutan inilah kesimpulan hasil-hasil percobaan dirumuskan.




DAFTAR PUSTAKA

Adisarwanto,2005. KEDELAI. Jakarta : Penebar Swadaya

Almatsier, Sunita. 2004. Prinsip dasar ilmu gizi. Jakarta : Gramedia
Anggorodi , 1994.Ilmu Makanan Ternak Umum .Jakarta : PT Gramedia
Pustaka Utama
Buckle, K.A., R.A. Edwards, G.H.M. Wootton. 1987. Ilmu Pangan.
Jakarta : UI Pres
Cahyadi, wisnu. 2007.KEDELAI KHASIAT DAN TEKNOLOGI.
Jakarta: Bumi aksara
Gomez, Arturo. A dan Gomez,A.K.1995. Prosedur statistic untuk
penelitian pertanian  cetakan pertama Edisi ke-2. Jakarta: UI Press
Pratiwi,Silvia.2008.Mikrobiologi farmasi.jakarta:erlangga.
Rukmana, Rahmat dan Yuyun Yuniarsih. 1996. Kedelai Bididaya dan Pascapanen. Yogyakarta: Kanisius.
Taufiq A, Tuhana. 2008. Susu Fermentasi untuk Kebugaran & Pengobatan. Yogyakarta: Universiitas Atma Jaya.
Tejasari, 2005.Nilai Gizi Pangan. Yogjakarta : Graha ilmu
Winarno,2004. Kimia Pangan dan Gizi.Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama
Yuniastuti, Ari. 2008. Gizi dan kesehatan. Yogyakarta: Graha ilmu